Selasa, 08 Juli 2014

Musik Campursari

Istilah campursari sudah mulai terdengar sejak awal 1970-an, ketika stasiun RRI Surabaya memperdengarkan acara baru, yakni lagu-lagu dengan iringan musik berskala nada pentatonis atau tradisional Indonesia dan skala nada diatonis (musik barat). Perpaduan musik Indonesia tradisional dan barat ini ternyata banyak disukai masyarakat pada waktu itu. Sehingga RRI pun terus mempertahankan segmen tersebut.

Musik Campursari


Melihat animo yang cukup besar terhadap musik campursari, akhirnya mengundang ketertarikan musisi dunia. Colin Mc Phee, komponis Amerika pada 1930-an adalah salah satu yang tertarik dengan campursari. Mc Phee pun berhasil membuat komposisi campursari berjudul tabuh-tabuhan. Karya Mc Phee yang cukup bagus diikuti oleh Wheeler Backet pada 1960 yang membuat komposisi Indonesia-barat dan dipentaskan di Amerika Serikat.

Komposisi tersebut diberi judul The Dedication to Indonesia. Sayang dijaman sekarang sudah sangat jarang musisi internasional yang tertarik campursari. Justru musisi lokal yang terus mempertahankan nilai-nilai campursari dengan menciptakan sebanyak mungkin karya. Salah satu musisi yang konsen mempertahankan campursari adalah Guruh Soekarno Putra.

Guruh bersama grupnya Guruh Gipsy menciptakan paduan musik anyar kombinasi dari musik Bali dan barat. Lagu-lagu dalam kombinasi tersebut antara lain Mahardika dan Barong Gundah. Berbeda dari musik campursari jama 1970-an, campursari garapan anak bangsa cenderung lebih banyak terpengaruh oleh musik barat. Tapi anda masih bisa mengubah campursari ke karakter aslinya.

Tentunya dengan pemahaman mendalam dulu, tentang musik campursari itu sendiri. Untuk awal pembelajaran coba beli gitar dan mainkan beberapa lagu milik Guruh. Setelah menguasai lagu tersebut, baru beranjak ke lagu-lagu lawas edisi 1930 dan 1970an. Jika mampu memainkannya dengan baik, anda menjadi salah satu musisi yang berhasil melestarikan warisan budaya nusantara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar